Kamis, 16 Mei 2013

Penentram Jiwa



Oleh: K.H. Drs. Yakhsyallah Mansur, M.A.

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ/ العنكبوت [٢٩]:٤٥.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Ankabut [29]: 45)

Penjelasan ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi tuntunan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam khususnya dan kaum muslimin umumnya bagaimana caranya memperteguh jiwa dalam menghadapi tugas hidup yang berat. Pertama selalu membaca, merenungkan dan memahami wahyu Allah (Al-Qur’an) dan kedua dengan mendirikan shalat. Di dalam ayat ini dijelaskan efek positif dari shalat yaitu mencegah perbuatan kaji dan mungkar.

Di bawah ini akan diuraikan secara singkat kedua hal tersebut dan pengaruhnya bagi jiwa seseorang.

1. Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an adalah salah satu perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam berdasarkan firman Allah:

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ. وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنْذِرِينَ/ النمل [٢٧]: ٩١-٩٢.

Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Dan supaya aku membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: "Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan". (Q.S. An-Naml [27]: 91-92)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يآأهل القرآن لا توسد والقرآن واتلوه حق تلاوته أناء الليل وأناء النهار واغشوه وتدبّروا لما فيه لعلكم تفلحون/ البيهقى

Artinya: Hai Ahli Qur’an, janganlah kau jadikan Al-Qur’an sebagai bantal, bacalah dia dengan sebaik-baiknya di sebagian malam dan sebagian siang. Tebarkanlah (ajarkanlah) dia dan perhatikanlah sisinya, mudah-mudahan kamu memperoleh kemenangan – H.R. Al-Baihaqi.

Dengan membaca Al-Qur’an maka jiwa akan menjadi tenang karena Al-Qur’an diturunkan oleh Allah di samping sebagai petunjuk dalam kehidupan juga sebagai obat penawar hati yang sedang resah, sebagaimana ditegaskan oleh Allah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ/ يونس [١٠]:٥٧.

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Yunus [10]: 57)

Yang dimaksud dengan penyakit yang “ada dalam dada” adalah penyakit hati atau penyakit jiwa di antaranya kebodohan, buruk sangka, ragu-ragu (pesimis), munafik, benci, dendam, hasad (iri), dengki, putus asa, gelap mata dan sebagainya. Menurut peneliti medis penyakit hati itu akan mempengaruhi kesehatan badan. Dapat timbul berbagai macam penyakit jasmani pada organ-organ nafas, akibat adanya penyakit hati, misalnya sesak nafas, darah tinggi, darah rendah, penyakit gula, eksem dan sebagainya.

Apabila badan sakit-sakitan, maka orang tidak bergairah lagi memandang kehidupan dengan demikian jiwanya telah sakit sehingga segala-galanya sakit.

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang menghadap Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu mengeluhkan beberapa macam penyakit yang dirasakannya sehingga makan tidak enak, tidur pun tidak nyenyak. Secara fisik orang tersebut dilihat oleh Abdullah bin Mas’ud sehat maka beliau berkesimpulan orang tersebut sedang mengalami penyakit hati (jiwa). Beliau kemudian memberi nasehat, “Pulanglah dan ambillah air wudhu, karena sebenarnya tubuhmu sehat. Adapun yang sakit adalah hatimu (jiwamu). Setelah itu bacalah Al-Qur’an insya Allah hatimu akan tenteram dan tubuhmu akan kembali sehat. Apabila dengan itu hatimu belum tenteram maka datangilah majlis-majlis Al-Qur’an. Apabila dengan cara itu hatimu belum juga tenteram maka bangunlah di tengah malam untuk shalat lail dan berdoalah kepada Allah agar hatimu tenteram. Apabila dengan doa itu belum juga tenteram, mintalah kepada Allah hati yang baru karena hatimu telah rusak.”

Kemudian laki-laki tersebut pulang ke rumahnya dan segera mengambil air wudlu dan membaca Al-Qur’an. Ternyata setelah itu hatinya menjadi tenteram dan ia merasakan perubahan kesehatan pada fisiknya.

Kisah di atas bukti kebenaran sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مااجتمع قوم فى بيوتِ الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده/ مسلم

Artinya: Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam rumah Allah, mereka membaca Kitab Allah dan mereka pelajari bersama-sama melainkan diturunkan kepada mereka ketenangan hati, diselubungi dengan rahmat, dikelilingi oleh malaikat dan Allah menyebut mereka kepada orang-orang yang di sisi-Nya – H.R. Muslim.

2. Mendirikan Shalat

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa shalat akan dapat menjadi benteng yang membentengi pelakunya dari perbuatan keji seperti berzina, merampok, berdusta, menipu dan perbuatan munkar yaitu semua perbuatan yang mendapat celaan dari masyarakat dan tidak dikenal dalam syariat seperti berbuat bid’ah, dzalim, berburuk sangka dan sebagainya.

Shalat yang dapat mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar adalah shalat yang dikerjakan dengan khusyu, ingat bahwa maksud shalat adalah melatih diri untuk selalu dzikir (ingat) kepada Allah dan inilah yang sangat ditekankan dalam pelaksanaan shalat. Shalat yang kita lakukan akan menjadi kurang berarti kalau dalam melaksanakan shalat itu kita tidak ingat kepada Allah, atau tidak mengingat bahwa yang kita tuju dalam shalat itu ialah agar kita selalu ingat kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari di luar shalat sehingga kita terhindar dari perbuatan keji dan mungkar.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Imran bin Hushain:

سئل النبي صلى الله عليه وسلم عن قول الله تعالى: إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر قال: من لم تنهه صلاته عن الفهشاء والمنكر فلا صلاة له

Artinya: Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang ayat, “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” Beliau menjawab, “Barang siapa shalatnya tidak dapat mencegahnya demi perbuatan keji dan mungkar, maka tidaklah ada shalat baginya.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa seorang sahabat pernah mengadukan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa ada seorang laki-laki dia shalat pada malam hari, tetapi pagi harinya ia mencuri lalu beliau bersabda bahwa apabila orang itu betul-betul shalat, maka shalatnya kelak akan mencegahnya mencuri.

Abul Aliyah berkata bahwa di dalam shalat terdapat tiga aktivitas. Setiap shalat yang tidak mengandung tiga aktivitas ini maka shalatnya tidaklah berarti sama sekali. Ketiga aktivitas itu adalah ikhlas, khasy-yah dan dzikrullah. Ikhlash mendorong berbuat yang makruf, khasy-yah mencegah berbuat yang mungkar dan dzikrullah adalah Al-Qur’an yang dibaca yang akan menyuruh berbuat makruf dan melarang yang mungkar.

Apabila shalat telah berfungsi dengan baik, dapat mencegah pelakunya dari perbuatan yang keji dan mungkar maka akan tenteramlah jiwa orang yang melaksanakannya karena telah dapat terpelihara dari dosa yang menggelisahkan hatinya. Oleh karena itu menurut para ulama, shalat di samping dapat mencegah perbuatan yang keji dan mungkar juga dapat menenteramkan hati yang gelisah. Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila terjadi sesuatu yang menggelisahkan hatinya, beliau segera mengatasinya dengan mendirikan shalat. Beliau bersabda:

جعلت قرة عينى فى الصلاة/ احمد والنسائ

Artinya: Telah dijadikan penyejuk hatiku di dalam shalat – H.R. Ahmad dan An-Nasai

Menurut Djamaludin Ancok peranan shalat bagi kesehatan jiwa terlihat dengan adanya empat aspek terapeutikdalam shalat.

1. Aspek Olah Raga

Shalat adalah proses yang menuntut suatu aktivitas fisik. Konsentrasi otot, tekanan dan “message” pada bagian otot tertentu dalam pelaksanaan shalat merupakan suatu proses relaksasi yang merupakan salah satu teknik yang banyak dipakai dalam proses penyembuhan gangguan jiwa.

Lekrer melaporkan bahwa gerakan-gerakan otot-otot pada training relaksasi tersebut dapat mengurangi kecemasan.

Nizami mengatakan bahwa shalat yang berisi aktivitas yang menghasilkan bio-energi akan menghantarkan dalam situasi equilibrium antara jiwa dan raga. Eugene Walker (1975) melaporkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa olah raga dapat mengurangi kecemasan jiwa. Kalau dikaitkan dengan shalat yang penuh dengan aktivitas fisik dan rokhani, khususnya shalat yang banyak rakaatnya (shalat tahajud), maka tidak dapat dipungkiri bahwa shalat pun akan dapat menghilangkan kecemasan.

Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan antara keteraturan menjalankan shalat dengan tingkat kecemasan. Makin rajin dan makin teratur orang melakukan shalat maka makin rendah tingkat kecemasannya.

2. Aspek Meditasi

Shalat adalah proses yang menuntut konsentrasi yang dalam yang di dalam bahasa arab disebut khusyu’. Kekhusyukan di dalam shalat adalah proses meditasi. Beberapa hasil penelitian tentang pengaruh meditasi membuktikan bahwa meditasi dapat menghilangkan kecemasan. Kalu dikaitkan dengan shalat yang juga berisikan meditasi maka shalat pun akan dapat menghilangkan kecemasan bahkan dapat menyembuhkan penyakit fisik.

Cerita sahabat Ali yang tertusuk anak panah dalam salah satu peperangan, yang panahnya dicabut di saat beliau sedang shalat, membuktikan hal ini. Ali mengatakan bahwa beliau tidak merasa sakit ketika anak panah dicabut. Hasil penemuan ilmiah di bidang ilmu fisiologi yang disebut “gate system theory” ternyata mendukung kebenaran peristiwa tersebut. Dalam “gate system theory” dikatakan bahwa rangsangan rasa sakit dapat dihambat datangnya ke otak dengan adanya proses perangsangan lain yang dalam kasus sayidina Ali adalah kekhusukannya dalam shalat.

3. Aspek Auto-Suggesti

Bacaan dalam shalat di samping berisi pujian kepada Allah juga berisi doa kepada Allah agar selamat di dunia dan akhirat. Ditinjau dari teori hipnosis yang menjadi landasan dari salah satu teknik terapi kejiwaan, pengucapan kata-kata itu berisikan suatu proses auto suggesti.

Mengatakan hal-hal yang baik terhadap diri sendiri adalah mensugesti diri sendiri agar memiliki sifat yang baik. Proses sholat pada dasarnya adalah terapi yang tidak berbeda dengan terapi “self hyposis”.

4. Aspek Kebersamaan

Dalam mengerjakan shalat disarankan unutk melakukannya dengan berjamaah (bersama orang lain). Ditinjau dari segi psikologi, kebersamaan itu sendiri memberikan aspek terapeutik. Akhir-akhir ini berkembang terapi yang disebut “group therapy” yang tujuan utamanya menimbulkan suasana kebersamaan.

Beberapa ahli psikologi berpendapat bahwa perasaan keterasingan dari orang lain adalah penyebab utama terjadinya gangguan jiwa. Dengan shalat berjamaah perasaan terasing dari orang lain itu dapat hilang.Wallahu A’lam bis Shawwab.(T/P06/R2)

Mi’raj News Agency (MINA)

http://www.mirajnews.com/id/artikel/mukjizat-al-quran/3223-al-qur-an-dan-shalat-sebagai-penenteram-jiwa.html

pict
http://syafiiakrom.files.wordpress.com/2010/02/shalat-berjamaah.jpg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar